TEATERICAL PERANG OBOR
TEATERICAL
PERANG OBOR TEGAL SAMBI KECAMATAN TAHUNAN JEPARA
"MO GO BO THO NGO"
KOLABORASI TEATER TUMAN INISNU
JEPARA
DAN TEATER ELING PMII CABANG JEPARA
Karya : M. Ali Burhan
SINOPSIS
Sepenggal bait akhir dasar huruf jawa yang tidak sekedar
ejaan, tetapi lebih daripada itu merupakan falsafah kehidupan bagi orang jawa.
Satu Siklus kehidupan yang terlukis indah, penuh warna dan pesona, ada tawa,
tangis, senyum, jerit, ego, pasrah, dan
gambar-gambar lain yang kadang tak terlukis dalam kata, ataupun abjad.
Bumi hanyalah segumpal debu yang terserak di hamparan tata
surya. Seperti bait honocoroko, bumipun akan selalu hidup dan berubah. Manusia,
sebagai molekul kehidupan, merupakan
obyek ciptaan yang paling mulya. Di beri amanah untuk menyangga bumi. Agar
manusia tunduk dan patuh kepada-Nya.
Karena dunia sudah kian renta, bumi sudah mulai penat,
langit sudah bosan, lautpun sudah mulai marah, maka saatnya kita membaca, moco
kasunyatan. Belum sempat kita menyeka airmata Aceh dan belum selesai bait
Istighfar terlantun. Merapi memerah, belum sempat kita berdo'a, Jogja telah
rata dengan tanah. Inikah janji-Mu? "Apabila bumi di goncang dengan
goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat
(yang dikandung)nya, dan manusia bertanya : mengapa bumi (jadi begini)?
Padahari itu bumi menceritakan beritanya".
Dari sini, haruskah kita tetap membatu dan bisu? Menunggu
waktu sambil memuja pagan-pagan zaman yang kian mempesona? saatnya kita “menggeledah diri”, mengorek
serpihan-serpihan nurani yang selama ini tercampak di sudut hati. Mereka adalah
saudara kita, sedulur kita, bagian dari denyut nadi kita.
Semua ini telah terjadi, namun haruskah terulang lagi? Atau
mungkin hidup merupakan sebuah mesin raksasa yang tersusun dari roda-roda yang
saling menghimpit dan memutar jarum detik, menit, dan jam? berjalan searah menapak
dua belas jejak yang selalu terulang dari titik nol menuju titik klimaks dan
dari titik klimaks menuju titik nol? Yang solusi akhir dari semua ini adalah
"MO GO BO THO NGO"?. “Duh Gusti Sang Hyang Tunggal, Ingsun pasrahaken
jiworoga Ingsun dumateng Panjenengan.”
KRU PEMENTASAN
Judul, MO GO BO THO NGO. Karya : M. Ali Burhan, Penanggung
Jawab : Lurah Eling (Fuji Amar) dan Lurah Tuman (Fatoni), Produser : Amin f ,
Sutradara : M. Ali Burhan, Asisten Sutradara : Ni'am, Setting panggung :
Sholeh, Make up : Nikmah, Musik : Pholo, Property : Usro', Pemain : Brekele ,
Lilik, Nurul, Arul, Alun e, Nikmah, Anik, Bubah, Lethu, Thoni, Fad, Hana,
Saifudin.
SESUATU DIBALIK SESUATU
Naskah yang pernah di pentaskan dalam acara pelantikan
pengurus Koorcab PMII Jawa Tengah periode 2006-2008 di halaman parkir Gedung
RRI Semarang, jum'at, 28 april 2006 lalu ini terinspirasi dari upacara
tradisional "Perang Obor Tegalsambi" yang dikonfersikan dalam bentuk
pementasan dengan tema yang lain dari asalnya. Upacara tradisional "Perang
Obor Tegalsambi" atau "Obor-oboran", merupakan salah satu
upacara tradisional yang dimiliki Kabupaten Jepara, khususnya desa Tegalsambi,
kecamatan Tahunan.
Upacara tradisional ini diadakan setiap tahun sekali yang
jatuh pada hari Senin Pahing malam Selasa Pon di bulan "Besar"
(Dzulhijjah), diselenggarakan atas dasar kepercayaan masyarakat desa Tegalsambi
terhadap legenda yang terjadi di desa tersebut. Namun sekarang, upacara
tradisional "Perang Obor" dipergunakan untuk sarana "Sedekah Bumi" sebagai ungkapan
rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa
atas limpahan Rahmat, Hidayah, serta Taufik-Nya kepada warga Tegalsambi.
Jepara, 25 Juni 2006


Komentar
Posting Komentar